Monday, September 28, 2015

Perbedaan dan Kekuasaan-Intisari Perkuliahan Filsafat

My default face in most lectures : confused >.<

Ternyata, adanya perbedaan ‘kuasa’ dalam suatu tatanan sosial itu justru dibutuhkan. Jadi, setelah mengikuti perkuliahan tentang filsafat selama satu semester, saya kemudian paham bahwa beginilah adanya rupa bumi yang kita tinggali. Mau dihindari bagaimana pun kerasnya, tidak bisa dipungkiri, bahwa perbedaan –perbedaan akan selalu hadir dalam setiap bagian masyarakat, di sekolah, tempat kerja, keluarga, institusi, tempat perbelanjaan, dan sebagainya. Ada yang menang dan yang kalah, ada yang berlimpah harta dan ada yang justru berusaha keras untuk makan sehari, ada yang sukses dan yang gagal, ada pula yang berkuasa dan ada yang hanya mengangguk tanpa bisa berbuat.  


Mungkin sebagian kita yang merasakan termonopoli akan berkata bahwa dunia ini tidak adil. Mengapa yang berkecukupan dan rupawan hidupnya lebih mudah untuk mendapatkan harta, perhatian, dan kesempatan dibandingkan dengan yang kurang beruntung dan berpenampilan biasa saja? Sebenarnya apa yang terjadi, semua itu dipengaruhi oleh jaringan atau sistem yang ada. Sistem yang dimaksud merupakan saling keterkaitan unsur yang terdapat di dalam struktur sosial. Sistem yang ada di muka bumi ini menjadikan yang berkuasa yang berhak.

Om Foucault, paman sepeguruan para filsuf di dunia perfilsufan, yang secara khusus memiliki perhatian terhadap ilmu-ilmu manusia (humaniora) mengatakan bahwa sejarah/wacana ilmiah, seperti seksualitas, dan kegilaan, semuanya menunjukkan adanya keterkaitan kuasa di dalamnya. Baginya, kekuasaan adalah sesuatu yang sangat memesona di muka bumi ini. Ia mengatakan bahwa tidak ada sumber tunggal kuasa yang menjadi asal munculnya sebuah kekuasaan. Kekuasaan menurutnya tersebar, bersifat spesifik, khas, dan dalam sangat kontekstual. 

Seperti yang pernah dikatakan oleh dosen saya, Dr. Haryatmoko alias Romo Moko pada perkuliahan Filsafat FIB UI bahwa kekuasaan merupakan akibat langsung dari ketidaksamaan, ketidakseimbangan dan diskriminasi/pemisahan. Dengan kata lain kekuasaan muncul akibat adanya perbedaan. Perbedaan-perbedaan inilah yang menciptakan tingkatan-tingkatan struktur di dalam kehidupan masyarakat.

Nah, yang perlu digarisbawahi, dalam menciptakan struktur masyarakat kekuasaan tidak selalu harus dipandang secara negatif. Kekuasaan memang hakikatnya memberi struktur pada kegiatan-kegiatan manusia dalam bermasyarakat. Pada dasarnya dengan adanya tingkatan kuasa, yakni dimana ada yang berkuasa, memimpin, dan ada yang dipimpin, menjadikan tatanan kehidupan masyarakat menjadi lebih teratur dan produktif. Aturan-aturan yang timbul dalam sebuah intansi misalnya, dapat menciptakan suatu kedisiplinan dan kepatuhan. Hal ini dikarenakan adanya pengaruh kekukasaan di dalamnya. Jelas saja, bahwa aturan-aturan yang timbul dapat melanggengkan suatu komunitas. Semua ini demi terciptanya keharmonisan kehidupan kita di dunia.

Bagaimanapun roda kehidupan selalu berputar, bukan? Jadi, segalanya sangat mungkin berubah sewaktu-waktu, yang tadinya berkuasa, belum tentu selamanya berkuasa. Sekarang, menurut saya, mau kita yang berkuasa ataupun dikuasai, mau kita yang mengatur atau yang taat aturan, berada di bawah atau di atas, sebagai hamba Allah SWT dan insan berbakti pada bangsa dan negara, tugas kita adalah menjadi individu yang fungsional serta bermanfaat bagi sesama, di struktur sosial manapun kita berada.

“Hai (seluruh) manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan serta menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui, lagi Maha Mengenal” (QS 49. Al-Hujurat, ayat 13)

-Seradona A. Alexon-

No comments:

Post a Comment

What I think about The Rise of E-commerce Companies in Modest Fashion Industry in Indonesia

Courtesy: Zaura Models Composite Photo: Alexo Picture Wardrobe: Pret A Porter by Barli Asmara After the strict prohibition in public ...