Monday, March 7, 2016

Tabot Bengkulu - Dari Sakral Menjadi Festival

Foto Sewaktu Malam Bakal Pemilihan Puteri Indonesia 2010
Menjadi bagian dari Provinsi Bengkulu sekian lamanya, membuat saya cukup mengenal banyak hal tentang Bengkulu. Alhasil sebagai anak kelahiran Bengkulu, saya pun tumbuh dengan kebiasaan-kebiasaan dan ritme sosial masyarakat sekitar. Provinsi Bengkulu termasuk provinsi dengan jumlah penduduk yang tidak terlalu ramai dan jarang digelar banyak festival. Meskipun begitu ada festival tahunan yang khas di Bengkulu, yaitu Tabot. Bisa dibilang, perayaan Tabot inilah yang merupakan salah satu daya tarik wisatawan untuk berkunjung. Sebenarnya perayaan Tabot ada juga di Sumatera Barat (Padang), tapi di sana lebih dikenal dengan sebutan ‘Tabuik’. Keduanya sama, hanya mungkin berbeda dari segi pelaksanaannya.

Kata Tabot sendiri diserap dari Bahasa Arab Ar tābūt, yang artinya kotak kayu/peti. Peti itu milik Husein (cucu Nabi SAW) yang dibawa saat prosesi sepanjang bulan Muharram. Awalnya, Perayaan Tabot ini merupakan perayaan bersifat sakral secara agama. Namun, belakangan memang lebih dikenal masyarakat dengan sebutan festival Tabot yang justru bernilai budaya dan dikelola oleh pemerintah setempat setiap tahunnya. Saya tidak akan membahas bagaimana prosesi perayaan Tabot secara mendetail, karena artikel yang memuat tentang itu sudah cukup banyak (link1-link2-link3). Saya lebih ingin membagikan memori masa-masa berada di Bengkulu, tentang hal seru apa yang bisa dinikmati wisatawan saat festival Tabot Provinsi Bengkulu digelar selama 10 hari lamanya (1-10 Muharram).

Seingat saya, setiap di sekolah dulu, ketika prosesi ‘tabot tebuang’ (prosesi terakhir), siswa-siswa boleh berlarian keluar kelas untuk menyaksikan tabot-tabot indah itu diarak di jalanan seperti sebuah acara karnaval. Biasanya dilakukan pagi menjelang siang hari. Bagi anak sekolah, dibandingkan dengan ukuran tubuh mereka yang kecil, tabot-tabot itu kelihatan sangat besar dan megah. Apalagi diperbolehkan keluar kelas dan dapat tontonan gratis, itu bonus luar biasa, haha. Sembilan hari sebelumnya, sebelum prosesi ‘tabot tebuang’ banyak acara digelar, perlombaan tari dan musik tradisional, peragaan busana tradisional, lomba cipta lagu daerah, lomba menulis cerita daerah, lomba cipta puisi, lomba fotografi, dan lomba-lomba lainya yang melibatkan banyak generasi muda kreatif. Serunya lagi ketika puncak acara, semua peraih juara pertama di tiap kategori lomba akan ditampilkan di panggung nan megah yang digelar besar-besaran. Banyak undangan yang hadir, perwakilan-perwakilan daerah lainnya pun turut di undang.

Food Festival? yes, kalau makanan intinya membuat kunjungan wisata jadi berwarna, and you’ll find it too there. Bayangkan sembilan hari lamanya, masyarakat lokal maupun pengunjung akan dimanjakan dengan food stall yang tersebar dalam satu kawasan terpadu, jadi akan banyak makanan enak, murah, beberapa khas daerah dijual di sana tanpa kita harus mencarinya terpisah-pisah. Selain makanan, banyak juga yang menjual sovenir khas Bengkulu yang bisa dibawa pulang sebagai cendramata. Masih ada lagi, kita juga bisa menikmati stand pameran seluruh perwakilan Daerah Tingkat II Provinsi Bengkulu yang diwakili oleh tiap-tiap Pemerintah Kabupatennya. Pengunjung seakan-akan digiring untuk merasakan berkunjung ke seluruh bagian pelosok Bengkulu tanpa harus benar-benar ke pelosok. Dan malam terakhir, sebelum ‘tabot tebuang’ menyimpan memori tersendiri di benak saya, karena cukup sering saya dan keluarga menikmati gemerlap tabot yang dihiasi lampu-lampu dan melihat dari dekat tabot-tabot itu bersanding, indah sekali. Bentuknya beragam, ada ikan, ada bangunan bertingkat seperti candi, kuda, burung elang, dan masih banyak lagi. Ini sungguh PESTA RAKYAT bagi warga Bengkulu.

P.S: Lokasi Festival tabot ini dekat dengan wisata bahari Provinsi Bengkulu, ada Pantai Panjang dan Pantai Zakat. Bisa foto-foto buat instagram juga di sana. Biar variasi selain Pantai di Bali. Jamin bakalan keren!

by: Seradona A.

1 comment:

What I think about The Rise of E-commerce Companies in Modest Fashion Industry in Indonesia

Courtesy: Zaura Models Composite Photo: Alexo Picture Wardrobe: Pret A Porter by Barli Asmara After the strict prohibition in public ...