Thursday, April 21, 2016

Kyoto - My Dream Destination in Japan

Sulit dipungkiri bahwa hampir semua tentang Jepang saya ketahui dari menonton Anime. Anime berperan besar sebagai agen promosi budaya Jepang secara global, yaitu senjata ampuh Jepang sebagaimana Korea dengan K-Pop dan drama serinya. Sedari awal saya tertarik dengan Jepang, saya langsung tertarik untuk berkunjung ke Kyoto. Jadi, setelah 95 episode lamanya saya menonton anime SamuraiX dan tiga seri live-action movienya akibat terlalu kurang kerjaan (:p), Kyoto pun menjadi salah satu tujuan wisata di Jepang yang menarik bagi saya.

Foto diambil dari https://www.youtube.com/watch?v=ulVRwaxwqgo
Pada abad ke-8, Kyoto memang pernah menjadi ibukota negara Jepang, yaitu pusat pertumbuhan politik, ekonomi, budaya sekitar 1.100 tahun lamanya, hingga pada pertengahan abad ke-19 ibukota Jepang berpindah ke Tokyo. Di anime SamuraiX, Kyoto pada masa itu digambarkan sebagai sebuah kota yang penuh dengan gejolak politik negara Jepang, penuh dengan perang perebutan kekuasaan, pembantaian dan pembunuhan. Seakan-akan tidak ada yang tersisa. Namun ternyata, selama kurun waktu tersebut banyak peninggalan candi-candi dan kuil-kuil di sana. Nilai-nilai tradisi budaya pun masih dapat kita temui di Kyoto. Setelah mencari tahu apa saja yang bisa dinikmati saat jalan-jalan di Kyoto, saya jadi merasa bahwa Kyoto ini seperti DIY.Yogyakarta Indonesia di Jepang. So, ‘Kalau Indonesia punya DIY.Yogyakarta, Jepang punya Kyoto’, seperti itulah kira-kira.

Kyoto di Malam Hari Tampak Geisha Sedang Berjalan di Tengah Jalanan Kyoto
Foto diambil dari http://www.nytimes.com/2010/04/25/travel/25hours.html?_r=0
DIY. Yogyakarta meninggalkan banyak kenangan sejarah masa-masa kerajaan di Indonesia. Sebut saja, candi Borobudur yang sangat tersohor itu. Seperti di Kyoto, ada yang namanya Kiyomizu-dera Temple and Nijo Castle, keduanya dinominasikan sebagai World Cultural Heritage Sites. Selain itu masih banyak bangunan-bangunan berarsitektur tradisional yang bisa dinikmati di sana. Festival-festival yang digelar pun sangat beragam dan terkenal, tiga festival besar di antaranya the Aoi-matsuri Festival di awal musim panas, the Gion-matsuri Festival di pertengahan musim panas and the Jidai-matsuri Festival di musim semi, dan konon masih banyak lagi. Hal lain yang ingin saya rasakan di Kyoto adalah cultural experiences. Mengingat dulunya Kyoto juga merupakan pusat kebudayaan di Jepang, saya ingin sekali menyaksikan berbagai pertunjukan seni secara langsung, pertunjukan tari, teater, bela diri seperti pertunjukan samurai, dan lain-lain. Selanjutnya tentu berwisata kuliner di sana, tapi kalau tentang ini keinginan saya sederhana saja, saya cuma ingin makan makanan Jepang langsung dari Jepangnya. Kalau soal makanan saya orangnya super gampang, prinsipnya ‘apa saja boleh’ asalkan enak, halal, dan kenyang.   

Jadi, coba saja telusuri tentang Kyoto di internet, maka yang muncul gambar-gambar elok khas Jepang tradisional. Berbeda dengan Tokyo yang sudah sangat metropolitan, nuansa alam Jepang dengan taman-taman, pohon sakura mekar yang mengelilingi candi-candi, ada juga kuil-kuil peninggalan sejarah dengan jembatan kecil yang di bawahnya sungai mengalir, pepohonan hijau rimbun, semua membuat saya ingin melarikan diri kesana, atau hanya untuk sekedar menghirup udara segar sambil memegang samurai dan memakai kimono kemudian balik lagi ke rumah dengan pintu ajaib milik Doraemon, haha. 

by: Seradona A.

No comments:

Post a Comment

What I think about The Rise of E-commerce Companies in Modest Fashion Industry in Indonesia

Courtesy: Zaura Models Composite Photo: Alexo Picture Wardrobe: Pret A Porter by Barli Asmara After the strict prohibition in public ...