Monday, September 19, 2016

It's Only Just Begun

Assalamualaikum :)

Sebelumnya, ini adalah tulisan yang pernah saya posting di moeslema.com. Tulisan tentang pernikahan ini sebenarnya terdiri atas dua bagian; bagian pertama yaitu "sebelum pernikahan" dan bagian kedua "masa setelah pernikahan". Hanya saya untuk bagian pertama saya lupa di folder mana menyimpannya dan kebetulan moeslema.com pun sudah mengalami perubahan konsep di lamannya. Jadilah, ini yang tersisa dan saya merasa perlu untuk membaginya di laman blog pribadi saya. 


Di bagian kedua ini, saya berbagi cerita tentang masa setelah pernikahan. Kalau bisa dibilang, transisi dari lajang ke menikah itu sama seperti pindah rumah, pindah kerja, atau masuk jenjang pendidikan baru. Intinya, kita memasuki sebuah kehidupan baru untuk beradaptasi dan beraksi.

Perubahan Persepsi

Banyak yang bilang kalau nikah itu tidak seperti pacaran, pacaran cuma ada indah-indahnya saja dan ketika menikah baru kelihatan buruknya satu per satu. Pernyataan itu bisa saja benar, kalau hubungan pacaran tersebut didasari ego dan sekedar memenuhi kepentingan pribadi. Untungnya mitos itu tidak terjadi dalam hubungan saya, ketika awal saling tertarik kami selalu menginginkan yang terbaik bagi pasangan dan ini tetap berlanjut dalam pernikahan.

Misalnya, salah satu mitos dan momok dalam pernikahan adalah mulai mengenali keburukan suami. Tapi pernikahan tidak membuat saya menyesal mengetahui keburukan itu, malahan pernikahan menjadi jembatan untuk bisa saling memperbaiki diri satu sama lain. Dengan kepercayaan dan komunikasi yang sehat, lambat laun kami mulai terbuka tentang kekurangan-kekurangan kami dan bersama-sama merencanakan pengembangan diri.

Mitos lain adalah hidup setelah menikah akan menjadi lebih terkekang, karena harus memikirkan suami, anak, mertua, dsb. Suami pernah berkelakar tentang hal ini, “Aku udah gede, ngga usah dipikirin. Aku juga bisa mikir sendiri lho, coba nih lihat wajah berpikirku”(iya orangnya memang aneh :p maap bang kubuka rahasia sedikit). Mungkin pada dasarnya saya dan suami sudah terbiasa hidup mandiri dalam perantauan, jadi tidak ada tuntutan ini itu terhadap pasangan dan kami pun selalu berusaha untuk adaptif terhadap berbagai masalah yang mampir dalam hidup ini.

Memasuki dunia pernikahan dengan pasangan yang sudah saya kenal lama ini mengubah semua persepsi mitos tentang pernikahan. Dan dari sini saya mulai belajar untuk lebih percaya terhadap kemampuan diri dan pendapat orang terdekat (suami dan keluarga) daripada anggapan-anggapan masyarakat.

Tuntutan Sosial

Pernikahan bukan sekedar berkompromi menjalani hidup dengan pasangan, tapi juga tentang menghadapi tuntutan sosial bersama-sama, tentang kepoisme orang sekitar, sebuah basa-basi mengenai urusan rumah tangga orang.

Salah satu tema yang sering diangkat dalam kepoisme ini adalah perihal anak, masyarakat selalu menuntut pasangan yang menikah untuk segera berkembang biak. Sudah punya satu lalu ditanya kapan adiknya menyusul. Setelah dua anak tumbuh besar orang berkomentar kenapa kita ngga lanjut sekolah lagi atau kerja. Saya dan beberapa pasangan muda lain sering mengalami ini, dan kami sama-sama sadar bahwa masyarakat hanya membicarakan apa yang mereka tahu tanpa melihat lebih jauh kondisi/kepribadian pasangan muda yang di-kepo-in itu. Anggapan seperti ini kami jawab dengan senyuman saja, toh kami dan Allah SWT yang lebih tahu apa yang dibutuhkan dan apa yang lebih baik bagi kami.

Tema lain yang sering diangkat dalam tuntutan sosial pasangan menikah adalah tugas suami dan tugas istri, terlebih lagi mengenai tugas istri. Dalam hal ini suami saya selalu menekankan bahwa tidak ada pembagian tugas yang kaku dalam keluarga, kita lakukan apa yang harus dilakukan, yang penting saling pengertian dan saling membantu saja.

Misalnya tentang makanan, kami hanya makan besar sekali sehari. Dengan pola makan seperti itu, memasak menjadi tidak efektif dan efisien (karena waktu untuk menyiapkan makanan dan mencuci tidak sebanding dengan produksi makanan untuk dua orang dalam satu waktu). Jadilah kami terbiasa  berpetualang naik motor ke sana-sini cari warung untuk mengisi perut sekali sehari. Uniknya, kebiasaan unik ini sangat didukung oleh suami karena ia tidak suka dapur kotor, menyimpan makanan terlalu lama/banyak di kulkas, dan terasa lebih awet muda.

Dan berbeda dengan cerita-cerita di masyarakat di mana istri menyambut suami dengan teh hangat atau istri membuatkan kopi untuk suami, dalam keseharian kami justru si suami lah yang menjadi barista rumah. Mau bagaimana lagi? Dia lebih tau rasio takaran kopi dan air panas, jenis biji kopi yang bagus, perbedaan cara membuat kopi (drip coffee, french press, tubruk), bahkan perbedaan rasa tiap kopi sachet yang ada di pasaran. “Terlalu dini bagi Anda untuk melampaui kemampuan saya, huahahaha”, begitu ucapnya kalau saya mau coba buat minuman, untungnya doi tak pernah komplain tentang minuman buatan istrinya.

Petualangan Bersama

Satu kesimpulan yang saya tarik dari pernikahan di usia muda ini adalah pentingnya kemauan untuk berpetualang bersama. Sejak lamaran diterima, saya sudah menerimanya sebagai partner menjalani rintangan hidup bersama. Dan sejak ijab qabul diucapkan, dia telah bersedia untuk memulai petualangan ini. Dia tidak membeli saya sebagai budak rumah tangga, dan saya pun tidak menuntut dia menjadi Superman yang bisa segalanya.

Semoga Allah SWT selalu membimbing petualangan kami di jalanNya yang benar. Amin ya Rabbal ‘alamin...

by: Seradona A. 

No comments:

Post a Comment

What I think about The Rise of E-commerce Companies in Modest Fashion Industry in Indonesia

Courtesy: Zaura Models Composite Photo: Alexo Picture Wardrobe: Pret A Porter by Barli Asmara After the strict prohibition in public ...