Monday, November 28, 2016

[Cerpen] Ratu Sejagad



Hmph ... setahun sudah berlalu. Tapi ketegangan di atas panggung saat itu masih terasa hingga detik ini. Rasanya berat sekali menerima kenyataan bahwa aku harus memberikan semua memori dan sensasi ini kepada wanita lain yang akan menggantikanku. Hatiku bimbang apakah dengan berpindahnya mahkota di atas kepalaku ini berpindah juga semua kenangan indah nan berharga yang ada di dalamnya. Mahkota ini telah menjadi simbol pengakuan terhadap kecantikanku.

Momen Pemilihan Puteri setahun lalu terbayang-bayang dalam benakku, jantungku pun kembali berdebar-debar. Sesaat bayanganku berpetualang lebih jauh ke masa lalu ketika teman-teman melihat wanita-wanita cantik berjalan dengan anggunnya di panggung dan mereka semua mendambakan untuk bisa menjadi seperti wanita-wanita itu, dan aku benar-benar mewujudkan impian gadis polos itu! Segera ketika namaku disebut sebagai penyandang mahkota itu, semua rasa bercampur aduk dalam pikiran. Bersyukur, tangis haru, bahagia, eforia dan semua perasaan lainnya berebut untuk muncul dalam ekspresi wajahku yang jadi tidak karuan, tapi biarlah, aku sudah diakui sebagai yang tercantik malam itu. Untungnya aku masih bisa mengendalikan diri, meski bibir membisu dan tubuh sedikit membatu, senyuman dan lambaian tangan tanda terima kasih kuberikan pada semua yang hadir dalam ruangan itu.

Dan waktupun begitu cepat berlalu. Kini di depanku ada seorang wanita berbahagia lain yang menungguku untuk menyerahkan mahkota ini kepadanya. Dalam hati aku berkata, “Selamat kawan, nikmatilah setahun yang berbeda dalam hidupmu selama menyandang mahkota dan status ini, kutitipkan memoriku juga bersamanya”. Hinga akhirnya, aku melangkahkan kaki dalam ritual Last Walk yang selalu dilakukan para Puteri ketika tergantikan oleh penerusnya. Namun tidak seperti yang kuduga, aku tidak sedih, ada rasa lega ketika semua beban penjagaan citra diri tiba-tiba terlepas dari pundakku. Langkah di Last Walk ini adalah langkah simbolis di mana aku akan terus berjalan menyongsong masa depan yang lebih bermakna dari mimipi indah setahun ini. Memori yang kutitipkan dalam mahkota itu telah berpindah, kini cita-cita dan bayangan kiprah di masa depan pun berganti mengisi kepalaku. Sama seperti ketika terpilih, aku kembali memberikan senyuman dan lambaian tangan bentuk terima kasihku pada semuanya.

Entah berapa tahun sudah kulalui lagi, angin dari depan jendela menghembus berbisik syahdu kepada jiwaku seakan alam mengatakan semua akan baik-baik saja. Bau dedaunan, rumput, dan bunga-bunga menari-nari dalam penciumanku, diringi musik indah kicauan burung pipit dan gemerisik ranting dengan alunan air sungai, kecantikan harmoni alam ini tidak membutuhkan mahkota seperti aku dulu. Maka kuyakinkan diri untuk membuka mata dari lamunan nostalgia pengakuan kecantikanku dan melihat kecantikan alam di depan mataku yang rabun. Andai saja aku bisa berjalan di atasnya seperti aku berjalan di panggung saat itu, tanpa perlu diganggu kursi roda yang mengingatkan betapa rapuhnya aku kini.

“Grandma, I wanna be a princess too! Tell me more, tell me more, please, please, pleeeeeeaseee...”

by: Seradona A.

No comments:

Post a Comment

What I think about The Rise of E-commerce Companies in Modest Fashion Industry in Indonesia

Courtesy: Zaura Models Composite Photo: Alexo Picture Wardrobe: Pret A Porter by Barli Asmara After the strict prohibition in public ...